Dengarkan Radio Duta 90.9 FM Ambon - Radio Anak Muda No 1

'Aach... Aku Jatuh Cinta': Kacau, Lebay, Indah

Jakarta -Aach...bocah lelaki bernama Rumi itu sangat nakal. Seringkali dia membuat nangis tetangganya, seorang perempuan berdarah campuran bernama Yulia.

Jika bosan dengan Yulia, Rumi mengacaukan teman-temannya. Kotoran manusia ditaruhnya di besi pegangan jembatan penyeberangan. Saat malam hari, dia pergi mengintip rok ibu muda penjual gudeg di balai kota.


Aach... Perempuan bernama Yulia itu lemah sekali, sebentar-sebentar menangis. Untungnya paras cantiknya mampu membuat siapapun ingin berteman, bahkan mencintainya.

Beranjak dewasa, kekacuan mereka semakin liar layaknya kartun 'Tom & Jerry'. Tapi, siapapun tahu bahwa keduanya pun memendam rasa. Botol limun milik pabrik orangtua Rumi dan tebing pantai menjadi saksinya. Walaupun semesta dan segala isinya belum memberikan dukungan.

Aach... tragedi demi tragedi terjadi. Masuknya produk asing di era 70-an membuat usaha limun keluarga Rumi gulung tikar. Memasuki dekade 80-an, giliran usaha reparasi radio milik ayah Yulia yang kena dampaknya. Saat itu, televisi dan modernitas perlahan menggurita di kampung mereka.

Terjadi kerenggangan antara hubungan Rumi dan Yulia akibat kondisi sosial-ekonomi. Budaya juga menjadi pemicunya. Musik rock 'n roll, lipstik merah sampai bra merah menyala. Apa hubungannya?

Tapi sebetulnya, hanya ada tiga tokoh utama yang membuat serangkaian dinamika di atas. Mereka adalah Garin Nugroho, Chicco Jerikho dan Pevita Pearce. Kolaborasi itu hadir dalam film terbaru produksi Multivision Plus berjudul 'Aach... Aku Jatuh Cinta' (AAJC).

Sebuah drama cinta sejoli bercampur komedi dengan latar belakang masa lampau yang memesona. Sepanjang 89 menit, 'AAJC' menghadirkan gaya bertutur baru yang lepas dari pakem film drama Indonesia hari ini. Ada banyak sekali lapisan dalam cerita yang sesungguhnya sederhana, cerita tentang cinta yang terus terpendam.

Mulai dari sosial-politik, budaya, budaya pop, ekonomi semuanya bak tali-temali yang mempengaruhi erat atau renggangnya Rumi dan Yulia. Chicco sebagai Rumi dan Pevita sebagai Yulia terlihat berhasil di layar bioskop dengan suguhan akting mereka.

Narasi tak berkesudahan dengan sajak-sajak syahdu melagu oleh suara sengau Pevita dan monolog para pemainnya terasa aneh, tapi segar. Keindahan gambar khas Garin pastinya tak bisa lepas dari sorotan. Warnanya, dekorasinya, lokasi syutingnya, jelas membuat mata penonton dimanja. Alunan lagu lawas 'Dari Mana Datangnya Asmara' milik Ismail Marzuki serta 'Payung Fantasi' dari Hendri Rotinsulu adalah penyejuk di tengah peliknya konflik hati.

Terakhir, sajak-sajak romansa dan tragedi menjadi bahasa utamanya. Menggelikan memang. Bahasa anak sekarang, lebay! Tapi, seperti itulah film ini, menggelikan, kadang penuh kekacauan tapi indah sebagai sebuah kesatuan.

Mau tak mau penonton harus menghela napas panjang dan berkata, "Aach... aku jatuh cinta!"(detik.com)

Live Streaming

Download Mobile Apps

  • Gallery Foto

    • Event-Duta
    • Event-Duta
    • Event-Duta
  • Video

    • SuKa GuE HeheHe

Twitter Follow